21 April 2009

NARKOBA, “Kawan” atau “Lawan” ???

Namanya adalah Ricky (bukan nama sebenarnya) ia sekarang berumur 23 tahun. Seperti anak-anak seumurannya, ricky sangat menikmati masa kedewasaas yang ia jalani. Ia masih berstatus sebagai salah satu mahasiswa jurusan hukum di salah satu perguruan tinggi swasta yang berada di kawasan Kelapa Gading. Ia sangat menyukai jurusan ini, walaupun dulu tidak pernah terpikirkan sedikitpun olehnya tentang kuliah dan melanjutkan sekolah. Sampai pada akhirnya sebuah kejadian yang sangat mengerikan datang mengancam hidupnya, dan membuat hidupnya berubah 180° dari kehidupan yang sebelumnya.
Cerita ini berawal dari Ricky saat berusia 15 tahun, dimana pada saat itu ia sedang mengalami masa peralihan dari remaja menuju dewasa, yang baru saja mendapat gelar sebagai anak SMA, karena berhasil lulus SMP dengan nilai yang tidak begitu buruk, tapi cukup bagus bila dibandingkan dengan teman-teman laki-laki lain yang ada di kelasnya.
Ricky adalah anak ke-empat dari empat bersaudara, dengan 2 kakak perempuan dan satu kakak laki-laki. Sebagai anak laki-laki paling bungsu, tentu Ricky mendapat perhatian sedikit lebih banyak dari pada kakak-kakanya yang berbeda umur 5 tahun dari ke-tiganya kakaknya. Larangan demi larangan mulai datang dari orangtuanya, ini sangat menjengkelkan baginya, karena ia merasa terlalu dibatasi dan terhambat untuk berkreasi dan beraktifitas.
Ricky sanagt lelah dengan semua itu, ia menjadi gusar, sekaligus tertantang juga penasaran untuk mengetahui dunia luar yang sanagt ditakuti kedua orangtuanya. Sampai pada akhirnya, Ricky memberontak di usia yang ke-16, saat itu ia sedang menduduki bangku SMA kelas 2. Ricky mulai bolos sekolah, ia pun mulai berbohong kepada orangtuanya, agar dapat merasakan dan mengetahui dengan langsung apa saja yang terjadi di luar sana. Saat menerima surat panggilan dari sekolah yang ditujukan untuk orangtuanya, Ricky tidak pernah sekalipun memberikan pada orangtuanya.
Ricky mulai mengenal dunia malam, minuman-minuman keras dan rokok. Segala kegiatan ”buruk” yang ia lakukan itu selalu dikambing hitamkan dengan alasan kerja kelompok untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah, kegiatan extra-kulikukler yang wajib diikuti sampai menginap, dan lain-lagi alasan yang ia berikan pada orang tuanya.
Kejadian ini terus berlangsung selama tiga bulan, dan Rickypun mulai terperosok dalam pergaulan yang lebih membahayakan... pada saat itu orang tuanya pun akhirnya tahu dengan apa yang terjadi pada anak bungsunya, dengan kedatangan pihak sekolah langsung kerumah Ricky untuk bertemu dengan orang tuanya, disana pihak sekolah mencerikan semua kelakuan-kelakuan buruk yang dilakukan ricky selama tiga bulan kebelakangan ini. ”mungkin emang dasar apes... pas mereka pada dateng kerumah, pas keluarga gue lagi pada ada dirumah semua lengkap dengan gue, yang baru aja selesei mandi... jadi tepat disaat itulah, gue abis kena marah bokap, nyokap gue. Gue dibilang anak kurangajar, karena berani ngebohongin orang tua sebegitu hebatnya. Tapi gwe juga ga mau kalah. Gwe ngebela diri, gwe bialng aja kalo justru karena semua aturan yang mereka buat untuk gue yang bikin gue jadi kaya gitu.. gue bilang ke mereka, kalo gue butuh kepercayaan mereka, sama seperti yang mereka kasih ke kakak-kakak gue, gue juga ngga mau jadi anak KuPer, yang ngga tau kehidupan diluar sana. Gue ga bisa cuma diem ngedengerin cerita mereka tentang kehidupan diluar yang katanya ga bener-lah, jahat-lah, ngejerumusinlah atau apalah... dan gue terus kasih pemahamn bua tmereka, kalau gue juga udah gede, tahu mana yang baik dan buruk buat gue, ga perluhlah gue dikurung dirumah terus, udah kaya burung dalam sangkar.. terus gue kasih pengertian kalau gue cuma butuh kepercyaan dari mereka semua.” begitulah katanya saat ia menceritakan kisahnya.
Kejadian pada hari tu pun mulai merubah tingkah laku orang tua dan kakak-kakaknya. Merekapun mulai memberi kebebasan sedikit demi sedikit kepada Ricky, biarpun pada awalnya tetap dengan pengawasan yang terkontrol. Tatpi penantian itu akhirnya tiba juga, pada kelulusannya dari kelas 2 SMA Ricky mendapat kebebasan dan kepercayaan dari keluarganya secara penuh.
Senang dengan kebebasan, Ricky mulai tidak tentu arah. Dia pun mulai kebablasan dengan kebebasan yang diperolehnya. Ia mulai jauh lagi terperosok dalam kehidupan ”kejam” dunia yang sesungguhnya. Ricky mulai sering pulang malam, pergi ke club-club alam, dan ia pun mulai mengenal NARKOBA. Awalnya ia hanya mencoba inex dan lexo, karena dengan meggunakan obat itu dia dapat menikmati suasana club agar lebih nikmat. Dari situ Ricky-pun mulai kenal dengan ”Tata (bukan nama sebenarnya) yang juga merupakan bandar peredaran NARKOBA di club tersebut. Lalu Ricky juga mulai berkenalan dnegn ganja, shabu-shabu, putaw dan extacy.
Selama tidak kurang dari satu tahun Ricky mulai terbiasa dengan semua obat-obatan tersebut. Mulai dari dosis terendah sampai dengan dosis tertinggi setiap harinya. Bayangkan sja, Ricky dapat memakai obat haram itu sebanyak 3 kali dalam 2 jam dalam sehari. Bisa dihitung berapa banyak racun yang dia dapat setiap detiknya.
Ricky mulai tidak terkendali, ia mulai menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan obat-obatan itu, ”gue mulai gila, gue jual semua barang-brang yang bisa ngehasilin duit, gue makan uang spp bulanan, gue mulai malak, mualai nodong, dan gie muali nyopet, ah gila parah banget deh...” cerita Ricky.
Lambat laun orang tuanya pun mengetahui perbuatannya, mereka kaget bukan main, dan mulai mengurung ricky lagi seperti dulu. Bahkan yang sekarang lebih parah, karena ricky benar-benar tidak diberi izin untuk keluar kamar sedetikpun. Ia hanya bisa meratapi nasibnya berada didalam kamar, seperti orang yang dipenjara. Tetapi yang namanya orang yang ’sakau” hal seperti ini tidak berlaku lama. Ricky berhasil dan orang tua mereka juga tidak bisa melacak keberadaanya.
Ricky mendatangi Tata, dan mulai hidup dengan Tata dia apartement milik Tata. Ricky semakin menggila dengan memakai obat-obatan yang didapatkannya gratis dari Tata. Ricky menganggap bahwa Tata adalah satu-satunya orang yang mengerti dirinya dan kebutuhan hidupnya. Begitu terus menerus samapi 4 bulan lamanya. ”Gue mau aja disuruh dia kirim-kirim barang ke orang-orang. Gue dikasih motor buat pergi-pergi, diaksih hand phone buat telpon-teplonan, sampe kadang gue diaksih duit buat beli jajanan. Gue sih ga masalah toh, dia juga baik sama gue”. Ungkap Ricky. ”saat itu, gue ngerasa kalo Tata dan Drugs emang kawan terbaik yang gue milki. Jujur pas lagi sama Tata gue ga pernah ngerasa sepi, selalu ada yang nemenin, gue ngerasa Tata kaya pahlawan buat gue, karena pas disaat yang dibuithin, dia ada buat gue, dia baik banget mau ngasih obat gratis buat gue yang udah jadi kebutuhan sehari-hari gue. Tambahnya.
Tapi semua berubah pas Ricky masuk rumah sakit karena OD, sehabis pesta Shabu-shabu. ”Gue bener-bener kaya orang mau mati saat itu, pala gue pusng, mata gue buyer, badan gue lemes, tapi untungnya gue cepet dilariin ke rumah sakit dan cepet dapet pertolongan. Tuhan emang masih sayang sama gue, gue masih bisa selamat”. Tapi sayang nasib baik tidak terjadi pada Tata, yang terpaksa harus meninggal di tempat karena terlalu banyak mengkonsumsi drugs. Ricky dan ke dua temannya harus rela kehilangan Tata untuk selamanya.
Dari hal itu, Ricky mulai sadar bahwa ternyata apa yang selama ini dia anggap teman setia, kawan sejati, tapi justru mendatangkan petaka dan musibah baginya, sekolahnya terganggu, bertengkar dan membuat malu keluarga juga kehilangan orang yang dia sayangi. Bahwa Drus alias NARKOBA bukanlah teman yang nyata, tapi hanyalah Lawan yang sangat mematikan dan sangat pintar, karna dapat mengambil nyawa kita kapanpun ia mau.
Dari situ Ricky mulai berbaikan dengan keluarganya, dan mulai menjalani masa rehabilitasi yang ada dikawasan bogor. Memang sangat sulit dan sakit awalnya, tapi dengan tekad yang kuat, dan berserah pada Tuhan, maka semuanya dapat berjalan dengan baik. Ricky mulai mengejar ketertinggalanya dalam sekolah, dan memulai hidup baru yang lebih indah dari hari kemarin
Sekarang Ricky sudah memasuki semester 3 di bangku kuliahnya, dan ia pun masih tetap dalam masa pemulihan. ini memang sangat mengenaskan melhat umurnya yang terlampau 4 tahun dengan usia seharusnya. Ia terpaksa harus mengulang masa SMAnya, dan berjalan seperti ia mulai dari awal, tanpa harus melihat ke belakang dan melupakan apa yang buruk yang terjadi di hari kemarin.
Tapi ini bukan menjadi halangan baginya untuk mendapatkan ilmu yang beguna bagi orang banyak. Ia bercita-cita agar dapat menghapuskan peredaran NARKOBA di indonesia dengan memberikan sangsi yang jelas bagi pengedarnya, dan memberikan rehabilitasi yang benar bagi penderitanya. Agar kedepannya tidak ada lagi orang yang mati sia-sia karena obat yang tidak berguna, yang awalnya dianggap kawan, tapi justru adalah musuh terselubung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar